Kalian Tim Guru Zaman Dulu atau Zaman Modern ?

Kalian sebagai tim Progreso pastinya tau dong adanya perbedaan Guru Zaman Dulu dengan Guru Zaman Modern ? semuanya memiliki perbedaan yang sudah terperinci pastinya. Banyak sudah diantara kalian yang hafal dengan beberapa lagu sewaktu masih sekolah seperti : Ibu Kita Kartini, Surat Cinta Untuk Ibu, Mengheningkan Cipta, Indonesia Raya, Kicir-Kicir dan masih banyak lagi yang lainnya. Lagu ini juga banyak dinyanyikan ketika sedang upacara maupun pada saat pelajaran Seni Budaya tiba. Hampir semua orang termasuk kalian nih, merasakan hitsnya lagu tersebut saat duduk di bangku SD, SMP atau SMA. 

Selain itu, guru-guru zaman dulu perilaku atau kebiasaannya akan berbeda jauh dengan guru zaman Modern. Sebagai contoh besar saja untuk guru zaman modern atau zaman sekarang memperbolehkan atau memang mengajak para muridnya mencari sumber lain dengan menggunakan teknologi berupa Handphone Pintar dan jaringan Internet kuat di dalam mencari referensi pembelajarannya. Untuk Guru Zaman dulu ? Mana sempat, perkembangan saja belum canggih dan masih memakai Hp Blackberry atau Nokia. Dan itu hanya beberapa kalangan saja yang mampu pastinya. 

Nah untuk kalian yang ingin melihat perbedaan-perbedaan lainnya antara guru zaman sekarang dengan jaman dulu, intip langsung saja perbedaannya di web yang satu ini … 

Dulu Hanya Guru yang Mengajar, Untuk Sekarang ada Sistem SCL 

SCL – Student Centered Learning menjadi pedoman guru zaman sekarang. Untuk guru di masa lalu cenderung mengarah pada satu arah saja. Guru memang sudah menjadi pusat pembelajaran tanpa aktif melibatkan muridnya. Bahkan lebih lagi ada ungkapan jika ada guru sampai istilah katanya mulut berbusa-busa dapat menjelaskan pelajaran pada murid-muridnya. Seiring dari berjalannya waktu, hari demi hari sudah memakai sistem SCL. Metode tersebut menjadikan murid sebagai pusat dari pembelajaran. Dengan begitu, Murid bisa mendapatkan kesempatan dan juga ruang dalam membangun pengetahuannya tersebut. Dengan memperoleh pemahaman yang sangat mendalam, lalu mengasah adanya kemampuan berorganisasi murid, sampai dengan dapat kesempatan menjadi public speaker di depan kelas. 

Akan tetapi masih ada juga beberapa oknum guru yang kerap sekali menggunakan metode tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk bermalas-malasan. Padahal bukan itu yang seharusnya bisa dilakukan. Guru sendiri harusnya tetap menjaga sebuah proses belajarnya, lalu menjadi mediator yang baik dan juga mampu meluruskan apa yang keliru ketika ada murid yang sudah melenceng jauh dari pelajaran tersebut. 

Tegasnya Guru Zaman Dahulu 

Untuk guru-guru zaman dahulu sudah sangat jelas sistem pengajarannya cenderung Keras, entah itu secara verbal maupun adanya tindakan nonverbal yang ada. Saking ringan tangannya, ada penggaris legend yang bentuknya kayu panjang dan besar serta penghapus kapur terbuat dari kayu bisa dengan mudah dan juga hinggap di tubuh siswa. Akan tetapi, tidak sedikit juga orang-orang dulu yang mana mengakui kalau cara tersebut malah cukup ampuh supaya bisa jauh lebih disiplin dan tidak akan melakukan kesalahan lagi. 

Sudah pasti beda banget sama zaman sekarang, menyampaikan adanya nasihat secara halus dan kalau bisa jangan sampai menyakiti perasaan si murid. Beberapa guru memang kadang makan hati, dikarenakan dengan cara tersebut para murid malah bisa mengulang sebuah kesalahannya. Dan memang biasanya nih sewaktu saya menjadi murid, pasti deh keseringan masukin materi di kuping kanan tapi langsung aja dikeluarkan lewat kuping kiri tanpa ada yang disaring lagi wkwkwk. Jika memang dikasari dikit, si murid laporan ke orang tua dan tidak sedikit juga orang tua yang melapor ke polisi karena tindakannya enggak wajar, padahal kalau di tengok zaman dahulu jauh lebih parah ya….. 

Guru Zaman Dulu Kaku, Zaman Modern Bersahabat 

Untuk guru zaman dahulu atau zaman modern sebenarnya sama-sama memiliki wibawa bukan ? hanya saja kebanyakan guru sekarang tertindas dan wibawanya dimainkan oleh para murid.. Namun untuk hal tersebut tidak akan hilang di luar kelas sehingga adanya interaksi antara murid dan juga guru pun sangat amat kaku. Jika kalian ketemu di luar kelas atau sekolah, maka jangan pernah lupa melayangkan Hukum Wajib 3S : Senyum, Sapa, Salam ! jangan salah, dalam hal ini ada sebuah doktrin khusus pemisah mana Murid dan Guru yang dinilai murid tersebut masih menghormati sang guru.

Bisa dibandingkan dengan guru-guru zaman sekarang, mereka akan jauh lebih luwes dibanding dengan murid-muridnya tersebut. Baik itu langsung di dalam kelas sampai dengan di luar kelas. 3S ini memang masih tetap dilakukan sebagai jarak pemisah. Akan tetapi, garis tersebut akan lebih jauh dibanding pada masa lalu. Dan bisa-bisanya guru ini malah melontarkan candaan ketika bersama dengan murid-muridnya tersebut. Layaknya dari sebuah perlakuan teman ke teman gitu dan tidak sedikitnya murid yang suka curhat sama gurunya lho, entah itu tentang kehidupannya Akademis atau Kehidupan dari Non Akademis. 

Guru Zaman Dulu Struggle dan Sekarang Terfasilitasi Teknologi Baru

Jika memang ini menjadi sebuah perbedaan yang paling jelas sangat kentara sih. Zaman dulu, teknologi dari penunjang pembelajaran tidak sebanyak zaman sekarang. Guru yang memang memiliki papan tulis kapur untuk bisa menjelaskan bahan pembelajaran, plus buku yang mana mungkin saja tidak semua murid bisa punya. Dan sekarang kalian bisa lihat sendiri realitanya di sekitar kalian. 

Disini kalian juga bisa memungkinkan dalam merasakan sendiri teknologi-teknologi terbaru yang bisa menjadi media belajar dari Guru-Guru zaman sekarang. Beberapa sekolah saat ini memiliki proyektor yang terkoneksi ke perangkat komputer. Dan kadang-kadang papan tulis kini sudah menggunakan Marker, bukan lagi kapur. Sekarang ada juga guru tidak butuh banyak sekali alat peraga sebab saat ini kita bisa meminta bahan ajaran dari para guru yang sudah langsung berformat pada Power Point yang bergambar. Jadi jangan pernah terlupakan adanya keberadaan Internet sekarang bisa mengerjakan tugas juga bisa kirim Email. 

Guru Zaman Dahulu Lebih Objektif 

Jadi jaman dulu, guru-guru bisa saja dengan mudah memberikan nilai merah di setiap rapor. Bukan hanya subjektif, namun memiliki nilai yang asli. Nah nilai murid ini memang benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada dari muridnya. Beda banget dengan guru zaman sekarang mau tidak mau mengisi kolam nilai Rapor dengan nilai minimal yang menjadi sebuah standar, yakni para guru memang biasanya bisa mengisi nilai dengan menggunakan pensil. Jadinya, para murid bisa saja mengambil ujian ulang. 

Disamping itu memang biasanya ada saja kepentingan pihak sekolah supaya nilai-nilai pada muridnya yang bagus. Dengan begitu, kualitas dan juga citra dari sekolah bisa saja tetap terjaga di mata masyarakat dan tidak semua memang tapi ada lah ya yang seperti itu. 

Jadi itu tadi yang benar-benar jelas dalam membedakan adanya perbedaan guru-guru zaman dulu dengan guru-guru zaman sekarang atau modern. Terlebih lagi karena adanya masa New Normal. Anak-anak lebih disodorkan lagi melalui pembelajaran online yang haqiqi. Tidak terasa juga, sudah mau setahun anak-anak yang ada di indonesia dari TK, SD, SMP, SMA/SMK memulai pembelajaran sampai ujian dengan sistem online.